DLH Kota Serang Gencarkan Rabu Bersih, Ajak Warga Hentikan Kebiasaan Buang Sampah ke Sungai

  

DLH Kota Serang Laksanakan Kegiatan Rabu Bersih, Dipimpin Langsung Kepala Dinas Farach Richi. 

SERANG — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Serang terus menggencarkan upaya menjaga kebersihan lingkungan melalui kegiatan Rabu Bersih. Program ini menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga sekaligus mencegah pencemaran Sungai Cibanten.

Kepala DLH Kota Serang, Farach Richi, menegaskan bahwa menjaga kebersihan sungai tidak cukup hanya mengandalkan kegiatan pembersihan rutin. Perubahan perilaku masyarakat, terutama dalam mengelola sampah dari rumah, menjadi kunci untuk menjaga kualitas lingkungan secara berkelanjutan.

Menurut Farach, berdasarkan hasil pemantauan yang dilakukan DLH, kualitas air Sungai Cibanten masih berada dalam batas parameter yang diuji. Meski demikian, air sungai tersebut belum layak untuk dikonsumsi secara langsung.

"Parameter yang digunakan sejauh ini masih dalam batas wajar dan bisa digunakan oleh masyarakat, tapi jangan diminum," katanya pada 28 Juli 2026 lalu. 

Pemantauan kualitas air dilakukan secara rutin setiap bulan di tiga titik, yakni wilayah Gelam, Kidemang, dan Angsana. Pengawasan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam mengetahui kondisi lingkungan sekaligus mengantisipasi potensi pencemaran.

Farach menjelaskan, salah satu persoalan yang masih menjadi perhatian adalah sampah rumah tangga yang berpotensi mencemari aliran sungai. Karena itu, DLH terus mendorong edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah.

Melalui kegiatan Rabu Bersih, DLH mengajak masyarakat untuk terlibat langsung menjaga kebersihan lingkungan, termasuk kawasan di sepanjang aliran sungai. Gerakan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi kebiasaan sehari-hari.

"Perubahan perilaku masyarakat dapat dimulai dari tindakan-tindakan kecil di lingkungan sekitar. Kami mengajak masyarakat untuk mulai memilah dan mengolah sampah dari rumah, tertib membayar iuran sampah, serta bersama-sama menumbuhkan kesadaran kolektif terhadap kebersihan Kota Serang," ujarnya.

Selain mengandalkan edukasi, Pemerintah Kota Serang juga menyiapkan langkah untuk memperbaiki sistem pelayanan pengangkutan sampah, khususnya bagi warga yang tinggal di sekitar sempadan sungai.

Salah satu rencana yang disiapkan adalah penerapan retribusi pelayanan sampah bagi rumah tangga di kawasan tersebut. Skema ini diharapkan dapat membuat pengangkutan sampah lebih terorganisasi sekaligus mengurangi kebiasaan membuang sampah langsung ke sungai.

"Pemerintah berencana menarik retribusi pelayanan sampah di rumah-rumah yang berada di dekat sempadan sungai. Langkah ini diambil agar pengangkutan sampah menjadi lebih terorganisasi, sekaligus mencegah warga membuang sampah langsung ke sungai," jelasnya.

Di sisi lain, DLH Kota Serang juga menaruh perhatian terhadap kualitas udara. Berdasarkan data yang disampaikan Farach, indeks kualitas udara Kota Serang berada di angka 91 atau masih dalam kategori sedang.

"Kualitas udara di Kota Serang masih dalam kondisi sedang. Nilai indeksnya masih di bawah 100, atau sekitar 91 dan tidak pernah di atas 100. Artinya masih terjaga di tengah musim kemarau ini," katanya.

Ia menyebut kondisi cuaca, termasuk musim kemarau dan fenomena El Nino, menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam pemantauan kualitas udara. Meski indeks masih berada pada kategori sedang, masyarakat tetap diminta menghindari aktivitas yang dapat menambah pencemaran.

Salah satu kebiasaan yang menjadi perhatian adalah membakar sampah rumah tangga. Selain menghasilkan asap, pembakaran sampah dapat melepaskan polutan yang berdampak terhadap kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

"Yang masih banyak dilakukan masyarakat adalah membakar sampah. Ini yang kami harapkan bisa dihentikan karena berdampak langsung terhadap kualitas udara," tegasnya.

Farach juga mengingatkan pentingnya mencegah penumpukan sampah. Sampah yang menumpuk dan membusuk dapat menghasilkan gas, termasuk metana, yang turut menjadi perhatian dalam pengelolaan lingkungan.

"Dengan adanya tumpukan sampah akan timbul penguapan dan menghasilkan gas metana. Karena itu masyarakat minimal mulai memilah sampah dari rumah," tandasnya.

Ia berharap kegiatan Rabu Bersih dapat memperkuat kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat. Dengan membiasakan memilah sampah, tidak membakar sampah sembarangan, serta menggunakan layanan pengangkutan sampah secara tertib, warga diharapkan ikut menjaga Sungai Cibanten dan kualitas udara Kota Serang. (ADV)

Next Post Previous Post

No comments